Ekstrakurikuler Jurnalistik

Welcome to Majalah FOKUS

Anggota ekstrakurikuler Jurnalistik

Pelatihan Dasar Jurnalistik di JTV Surabaya

Pelatihan Dasar Jurnalistik

Melihat cara membuat majalah di Percetakan Gramedia Surabaya

Kreatifitas Siswa-siswi SMA A. Wahid Hasyim

Lomba mading antar kelas tahun 2014.

Welcome to our Blog. Majalah FOKUS SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng.

Merupakan sebuah majalah yang dihasilkan oleh siswa-siswi Ekstrakurikuler Jurnalistik SMA A. Wahid Hasyim. Situs ini merupakan perwujudan dari majalahFOKUS versi Online.

Ekstrakurikuler jurnalistik SMA A. Wahid Hasyim didirikan sejak tahun 2002. Bapak Achmad Fathoni adalah pendiri sekaligus Pembina ekstrakurikuler Jurnalistik yang pertama kali. Di SMA A. Wahid Hasyim sendiri ekstrakulikuler ini berguna untuk menampung sekaligus mempublikasikan karya-karya siswa. Baik itu berupa tulisan maupun gambar.

Pages

Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

31 Dec 2014

Puisi untuk 2015



 Assalamu'alaikum Wr Wb.

Selamat Tahun Baru 2015 sobat setia FOKUS semua , nah persiapan apa saja nih yang sudah tersiapkan untuk menyambut 2015 ??  Pasti sudah tersiapkan dengan rapi harapan harapan sobat semua kan yang belum terwujud di 2014 dan semoga akan terwujud di 2015 , Aamiin FOKUS aamiin-kan 

Pada tahun yang spesial ini , FOKUS persembahkan sebuah karya yang gak kalah kerennya sobat. Karya ini di karang oleh anggota FOKUS sendiri yang bernama : Nabila Paxia Basyasyah . Gak usah panjang panjang, berikut karya puisi beliau





Tiada pagi yang harus di hadapi saat ini
Maski sadar bahwa adzan subuh terdengar memanggil
Dan matahari mulai terlihat dari arah timur
Dengan warna khasnya yang memancarkan cahaya
Tak terlihat kembali senyum mungil itu
Seorang yang bisa buat ku rindu
Entah kini kemana dia berlalu
Ku cari pada sekumpulan orang mengerumun
Pada barisan paskibra yang berbaris
Namun mata belum juga menemukan
Terus menelusuri lorong yang ada
Memanjat manga setinggi kelapa
Terucap kata basmalah di dada
Semoga sahabat kecil maumenerima semua ini
Walaupun aku tau dia merasakan luka dan meneteskan air mata
Apa yang ingin ku katakana tak bias ku ungkapkan
Selamat tinggal semua di putih biru
Biarkan aku pergi menambah ilmu di putih abu
Gedung putih biru berlantai tiga itu dengan lambang khasnya si burung hantu
Menjadi cerita tentang kita di masa lalu
Maafkan jika aku tak akan bias lagi mendekapmu di setiap waktu
Sehingga membuatmu bersembunyi di pagi waktu ku pergi


Nah , itu tuh sobat karya puisinya  . Gimana ?? keren bukan??
okelah , sering sering berkunjunng ya sobat , kami Insya Allah akan selalu meng-Update karya karya yang gak kalah kerennya untuk selanjutnya
Udah dulu ya sob, salam Tahun Baru

Wassalamu'alaikum Wr.Wb

25 Sept 2014

Butiran Air Mata (Sastra)


FOKUS - Hai sobat Fokus, kali ini ada sedikit kata kata yg asli di buat oleh Junior Anggota FOKUS lho . Namanya : Uswatun Khasanah (X MIA 3)
Btw keren kok nih , baca sampai habis ya sobat Fokus
tulisan ini berjudul "Butiran Air Mata"

   
     Tetes demi tetes butiran air mata telah membasahi pipi ini. Begitu mudahnya air mata ini menetes setiap kali teringat dengan sosok dua orang yang sangat tangguh, sangat hebat, sabar, penyayang. Mereka adalah orang tuaku, guruku, dan pahlawanku.Aku baru saja menyadari bahwa kasih sayang mereka tidak bisa dibeli oleh banyakpun uang, sebanyak apapun harta dan sekeras apapun usaha.Dibalik diam mereka, mereka menaruh impian besar kepada kita. Ingin kita bisa menjadi orang yang berhasil, bisa bermanfaat bagi orang banyak. Tapi mereka tidak pernah menggharapkan balas budi dari kita. Tidak pernah, sedikitpun tidak pernah.Sudah berapa banyak biaya yang mereka berikan untuk kita? Jawabnya “tidak terhitung” tapi sudah berapa banyak uang yang kita beri untuk mereka? Seribu saja rasanya belum pernah, seribu yang benar-benar murni dari keringat kita.

Kinipun aku tersadar, bahwa selama ini aku belum bisa memberikan apa-apa untuk mereka. Ingin sekali selalu bisa melukis senyum di mereka. Tapi... apalah, prestasi saja rasanya masih pas-pasan.Ya Allah... ridhailah hamba-Mu ini dalam mencari ilmu, untuk bekal di masa depan agar selalu bisa melukis senyum di bibir ayah dan ibu, agar tidak ada lagi butiran air mata penyesalan yang menetes.Aamiin....

 Gimana sobat Fokus? Jangan lupa komentar nya ya sobat . Fokus selalu terbuka kok buat kalian semua .

14 Jun 2014

Jarum-Jarum Penyesalan

Langit seolah terbata memangku awan, angin berjalan hingga mampu membelai lembut tangan, tersapu rambut di pelipis mata. Rintik rintik hujan mulai berguguran, bak salju-salju yang bertaburan. Berjalan kaki melangkah, menyusuri beceknya jalan yang ada. Penuh bebatuan disetiap jalannya, kerikil yang lancip dan kotak tak merata, menusuk-nusuk telapak kakiku yang hanya beralaskan kulit saja.
Tiba di rumah, aku disambut dengan gelapnya malam, terpancar sepercik cahaya lampu kuning di ruang tamu. Kusandarkan diri pada pojok dinding rumah, sejenak istirahat melepaskan letih yang merasuk di dada aku menengadah, melihat atap rumah yang tiada langit-langitnya. Tes-tes-tes air hujan menembus dinding rumahku
“yah....bocor,” kataku dalam hati
“man....ambilkan ember di belakang rumah, letakkan di bawah genteng yang bocor itu,”terdengar teriakan Ibuku dari dinding kamarnya.
“cepet nduk...”tambahnya
Tanpa menjawab aku langsung berdiri,memaksakan kedua kakiku untuk melangkah mengambil ember, kuletakkan ember hitam berbahan plastik itu tepat di bawah  tetesan air yang terus menetes tiada henti sebelum huja berhenti.
Tergerak hatiku untuk menemui Ibu, bukan bermaksud untuk menjenguk, aku malah meminta Ibu untuk dibelikan sepeda motor. Aku tidak beralasan tapi memang benar, ini semua untuk kepentinganku, kepentinganku dalam menuntut ilmu. Sering terjadi pada diriku diguyur hujan lalu tidak bisa pulang karena rintik-rintik air itu menghalangiku. Alhasil setiba di rumah pada saat gelap gulita. Yaahh... malam ini aku sudah frustasi, aku bosan, aku capek dengan semua ini, mau tidak mau, tega tidak tega aku harus meminta sepeda motor kepada Ibu agar aku bisa sampai di rumah tepat waktu. Tidak seperti ini, selalu pulang malam karena hujan yang tidak kunjung reda dan dampaknya adalah aku tidak bisa belajar karena kecapekan. Ibu menjawab “iya nduk... insyaallah Ibu belikan kamu sepeda motor, tapi ada syaratnya ya ?” kamu harus bisa peringkat 1 dulu, kalau kamu sudah dapat peringkat 1, Ibu janji akan membelikanmu sepeda motor. Bagaimana ?” jawab Ibu tegas.
Aku hanya mengangguk pelan. Aku ingin meng-iyakan syarat itu, karena aku sudah bertekad apapun syaratnya pasti akan aku penuhi. Tapi, disisi lain aku bertanya-tanya apa bisa aku mendapatkan peringkat 1?
Bagi seorang cowok, peringkat 1 adalah hal yang sangat mustahil, terlebih aku yang tidak memiliki latar belakang keluarga pintar ataupun kaya. Aku hanyalah anak laki-lak biasa yang terlahir dari orang biasa pula.
~.~
Ku peluk erat rapot bersampul merahku, bahagia sungguh melanda hatiku, tak ku kira perjuanganku selama ini tidak sia-sia, aku mampu menang, aku mampu mengalahkan teman-temanku yang lainnya. Aku mampu meraih peringkat 1 sesuai dengan apa yang diinginkan Ibuku, sungguh bangga hatiku.
Sekarang adalah saatnya untuk menagih janji Ibuku. Aku berteriak-teriak lantang penuh semangat, memberi tahu Ibuku bahwa aku telah mampu peringkat 1 dan menagih janji Ibuku untuk membelikan sepeda motor sekarang, karena beliau sedang sakit dan uangnya pun tidak cukup untuk membelikanku sepeda motor baru sesuai dengan janji yang di utarakannya dulu kepadaku. Aku sangat marah melihat kenyataan ini semua. Aku ambil secara paksa rapot di tangan Ibuku, tanpa berkedip aku membanting rapotku itu ke atas lantai. Hatiku panas, amarah mulai membara, diri ini merasa tak di hargai, pengorbananku untuk mendapatkan peringkat 1 tidaklah mudah ku lakukan ,itu semua hanya untuk sepeda motor baru yang telah di janjikan Ibu kepadaku, tapi apa? nyatanya?”Ibu jahat! Ibu ingkar! mana janji Ibu dulu mana? herman malu bu...malu! semua teman-teman herman selalu memakai sepeda motor saat berangkat ke sekolah, sedangkan herman apa? selalu jalan kakii dari depan rumah hingga ke depan jalan raya besar, lalu naik bemo?! Herman malu bu...malu!!”. tanpa berfikir panjang, kulangkahkan kakiku meninggalkan rumah.
~.~
4 bulan telah berlalu, Ibu memberiku hadiah ulang tahun, dIbungkusnya rapi kado itu dengan muka tidak sabar.
“ini adalah hadiah sekaligus ucapan maaf dari Ibu atas kejadian 4 bulan yang lalu.”kata Ibu, aku hanya tersenyum mendengarnya. Saat ku buka, aku berharap itu adalah kunci sepeda moto, tapi apa? isinya hanyalah sehelai sarung hitam murahan yang di beli di pasar. Melihat itu, hatiku semakin kecewa, ada rasa benci di dalamnya. Aku banting hadiah itu. Semenjak itu aku putuskan, aku pergi dari rumah untuk selamanya.
~10 tahun kemudian~
Aku kini telah sukses, terbesit di mataku bayangan Ibu, mungkin aku rindu padanya. Aku putuskan,aku pergi menjenguknnya di desa tempat tinggalku dulu. Aku bawa anak dan istriku dengan mengendarai mobil pribadiku. Saat aku sampai di rumahku yang dulu, tidak ada siapa-siapa di dalamnya kecuali pamanku, aku bertanya kepadanya dimanakah Ibuku berada? paman tidak menjawab, ia malah memberiku kotak kecil yang kurasa itu adalah kotak hadiah ulang tahunku 10 tahun silam, ku buka lagi kotak itu, isinya masih sama, sehelai sarung hitam murahan yang dibeli di pasar, tapi terlihat di bawahnya terselip 1 kunci indah bergantung gambar motor, di dalamnya pula terdapat sepucuk surat yang isinya adalah permohonan maaf Ibu kepadaku karena keterlambatannya membelikan sepeda motor baru untukku.
Betapa kagetnya aku, jadi selama ini aku telah salah faham pada Ibuku sendiri, sebenarnya Ibu telah memenuhi janjinya padaku untuk membelikan sepeda motor baru untukku. Dia tidak pernah mengingkari janjinya. Aku berlari menuju makam Ibuku, menangis sejadi-jadinya mengucap maaf yang tiada hentinya, aku menengadah menatapi jarum-jarum hujan yang datang menerpa, mengingatkanku pada kejadian 10 tahun yang lalu, adanya jarum-jarum penyesalan kini melandaku, membekas dan menggoreskan luka pedih di hatiku. Maafkan aku wahai sang pengindah hidupku ...
Nb: Ibu selalu tahu, apa yang terbaik untuk kita J
Karya     : Rinaldiyanti Rukmana

Kelas     : XI IPA 3